Itulah dia : saban hari menekuri Rockhopper merah sembari merokok usai makan siang. Empat kali seminggu lelaki itu menghilang beberapa jam dengan Sabtu waktu hilang lebih panjang. Kerap ia mematut-matut lama depan cermin, mengepas kostum warna-warni yang dicela istrinya sebagai serupa baju sirkus. Kostum itu hampir semua dibeli dari luarnegeri.
Rockhopper itu, pusat dunianya kini. Rockhopper seksi berharga lima belas juta rupiah. Ia digenapi sarung tangan, helm, ransel, dan -tentu saja- markas besar di Jalan Pucung 12 dengan plang gagah bertuliskan KEOK MOUNTAIN BIKE.
Kegemparan dan kemeriahan yang dinikmatinya sendirian itu menjengkelkan istrinya, sarjana botani pertamanan yang akhir-akhir ini kerap meratapi nasibnya : upik abu dengan jemari kapalan reaksi deterjen dan aktivitas dapur. Perempuan itu menjadi agak pemberang dan semakin menghayati peristiwa kawin-cerai dalam acara gosip televisi.
Urusan Rockhopper merah itu tak usai hingga tengah hari, melainkan merembet ke malam hari. Jam lima sore lelaki itu pulang kantor. Ia akan membaca koran dan menonton berita sore di sofa ruang tengah bersama sang istri. Sesekali ia mengomeli anak bungsu yang banyak omong dan suka jumpalitan. Ketika senja menjelma malam, ia mandi. Jika ia muncul dari kamar dengan menggunakan celana panjang, bisa dipastikan ia akan bercokol di Jalan Pucung 12 hingga larut malam.
Biasanya sang istri melengos sebelum lelaki itu pamit agak terbata-bata : " Ma, aku ke Markas dulu ya !"
Lalu sang istri menyindir : "Rasanya ketua IMBA* pun tak membahas sepeda saban malam."
Namun lelaki itu mengebalkan diri. Terdengar deruman lembut mesin mobil memecah kesunyian.
-------
*IMBA = International Mountain Bicycling Association
0 komentar:
Poskan Komentar