26 Desember 2008

KEPALA YANG HENDAK DIKETUK ( 1 )

Itulah dia : saban hari menekuri Rockhopper merah sembari merokok usai makan siang. Empat kali seminggu lelaki itu menghilang beberapa jam dengan Sabtu waktu hilang lebih panjang. Kerap ia mematut-matut lama depan cermin, mengepas kostum warna-warni yang dicela istrinya sebagai serupa baju sirkus. Kostum itu hampir semua dibeli dari luarnegeri.


Rockhopper itu, pusat dunianya kini. Rockhopper seksi berharga lima belas juta rupiah. Ia digenapi sarung tangan, helm, ransel, dan -tentu saja- markas besar di Jalan Pucung 12 dengan plang gagah bertuliskan KEOK MOUNTAIN BIKE.


Kegemparan dan kemeriahan yang dinikmatinya sendirian itu menjengkelkan istrinya, sarjana botani pertamanan yang akhir-akhir ini kerap meratapi nasibnya : upik abu dengan jemari kapalan reaksi deterjen dan aktivitas dapur. Perempuan itu menjadi agak pemberang dan semakin menghayati peristiwa kawin-cerai dalam acara gosip televisi.


Urusan Rockhopper merah itu tak usai hingga tengah hari, melainkan merembet ke malam hari. Jam lima sore lelaki itu pulang kantor. Ia akan membaca koran dan menonton berita sore di sofa ruang tengah bersama sang istri. Sesekali ia mengomeli anak bungsu yang banyak omong dan suka jumpalitan. Ketika senja menjelma malam, ia mandi. Jika ia muncul dari kamar dengan menggunakan celana panjang, bisa dipastikan ia akan bercokol di Jalan Pucung 12 hingga larut malam.


Biasanya sang istri melengos sebelum lelaki itu pamit agak terbata-bata : " Ma, aku ke Markas dulu ya !"



Lalu sang istri menyindir : "Rasanya ketua IMBA* pun tak membahas sepeda saban malam."


Namun lelaki itu mengebalkan diri. Terdengar deruman lembut mesin mobil memecah kesunyian.



-------
*IMBA = International Mountain Bicycling Association

09 Desember 2008

ANGIN KURAWA

Apakah kau merasa dirimu lenyap?

Kelana suatu ketika mencoba berhenti. Semacam tetirah yang lalu bisa diselesaikan. Ada angin berhembus dari Utara, disebut Kurawa. Mengepung, rasanya amis tak tertahankan namun segera dilupakan. Setiap pagi ia merenggut secangkir kopi, sebelum hilir-mudik dalam pusingan otomatis. Kebosanan rasanya mematikan hingga ia menggerung melalui air yang memancur keras dari shower.


Aku ditelan kini. Perhentian yang dipilih sadar ketika itu. Pertaruhannya rupanya besar sekali : jiwamu. Barangkali sebentar lagi aku keedanan. Terbahak girang dengan hati compang-camping, teriakan yang dibenamkan. Lelaki itu setiap hari pulang meminta makan dan badanmu, lalu dipenuhi enggan.


Angin Selatan disebut Pandawa membisikkan kelapangan. Lapanglah maka gerungan berubah keriaan. Seperti sinetron?


Aku lenyap kini. Menggemukkan angin Kurawa menggantinya dengan esensi diri. Setiap saat aku membuang pandang melalui jendela dapur, sebentuk penghiburan aneh. Rekreasi konnkret adalah nafsu mengaduk-aduk bahan makanan, membentuknya menjadi sansak lezat yang berakhir menjadi lapisan lemak di perut.


Kau ingin kabur?
Betapa sungguh. Tapi sepasang mata itu, menjeratku senantiasa. Menahanku. Ruap tubuh kanak-kanaknya memberi jeda kegilaanku. Ketika ia melingkarkan tangannya di leherku, terapunglah rasa tawanan.

25 Januari 2008

ETAPE


Suatu saat kau menemukan seseorang yang layak menjalankan kehidupan bersamamu. Bukan sebuah rumusan kesempurnaan. Namun serupa perhentian. Sebuah peta baru. Terra Incognita. Sedikit beraroma eksperimen (pada usia tiga puluhan, ditengah skeptisisme akan ikatan, pernikahan adalah perjuangan menuju kehidupan kolektif). Kecemasan kesenyapan dan segala denyut membeku.


Sebuah kota kecil dengan kilang-kilang api. Pada beberapa orang dapat menjadi tempurung. Telusuran sehari kau mampu segera menghafal lekuknya. Kota yang disiram terik matahari dan angin yang menggiris. Kota yang dikembangbiakkan oleh industri eksplorasi. Sebuah ceruk kemakmuran, kebanggaan lokal.

Kau memiliki impian geografis dan hasrat kembara: tak terikat, selalu pergi, bertanggungjawab pada diri sendiri. Namun, ada saatnya kau berpikir untuk menerima kehidupan kolektif dan bertanggungjawab untuk orang lain. Suami yang penat. Anak-anak yang rewel. Harga sembako membumbung. Segala keinginan dikompromikan demi kegembiraan bersama. Tugas-tugas domestik.

Hari ini sepasang lelaki menuju kota lain. Seorangnya dalam degup bersirobok calon mertua dan kultur berbeda. Perempuannya separuh enggan melewati tetek-bengek simbolisasi ikatan manusia. Ia selalu membayangkan sepasang calon manten Jepang dalam sebuah film serial televisi: menepukkan tangan di kuil, membunyikan genta, suami-istri lah mereka. Betapa ringkasnya. Betapa indahnya.